Kamis, 13 Desember 2012

Hutan Kota Babakan Siliwangi sebagai Hutan Kota Rekreasi


Bandung merupakan kota yang dirancangan sebagai sebuah kota taman (garden city). Sebagai sebuah kota taman, Bandung memiliki beberapa taman kota yang kondisinya cukup baik. Kawasan Babakan Siliwangi merupakan salah satu ruang terbuka hijau yang lokasinya cukup strategis karena dekat dengan perguruan tinggi dan pusat aktivitas kota Bandung. Dengan posisi yang berada pada cekungan menghadap kearah sungai Cikapundung, Kawasan Babakan Siliwangi dibiarkan tumbuh secara alami.
Dilihat dari sejarahnya, kawasan ini sebenarnya cukup memiliki nilai budaya dan ilmiah yang cukup penting di kota Bandung.
Kawasan ini memiliki acara kesenian yang cukup unik, yaitu seni ketangkasan domba yang dilakukan oleh Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) dan telah berlangsung sejak tahun 1960-an. Kegiatan ini dan dilaksanakan setiap bulan pada minggu pertama. Kawasan Lebak Siliwangi ini juga merupakan lahan percobaan bagi pertanian. pada kawasan ini ditanam tanaman padi (Mina Padi) yang dahulu merupakan salah padi jenis unggul di Indonesia.
Hutan kota ini bukan berbentuk taman kota yang tertata dan memiliki nilai estetis. Sekitar tahun 1980-an, mulai dibangun restoran Babakan Siliwangi oleh pemerintah kota Bandung dan Sanggar Olah Seni dan Sanggar Mitra Seni oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat. Kedua fungsi ini diharapkan dapat menghidupkan kawasan Babakan Siliwangi sebagai salah satu tempat kunjungan wisata budaya di Bandung.
Perancangan hutan kota rekreasi Babakan Siliwangi didasarkan pada sebuah konsep dasar pemanfaatan sumberdaya alam sebagai pendukung kegiatan rekreasi alam meningkatkan kualitas dan daya dukung lingkungan dikawasan Babakan Siliwangi. Bentuk penataan kawasan meliputi tata ruang, tata sirkulasi, tata vegetasi, tata letak aktivitas, dan fasilitas rekreasi.
Pengembangan tata ruang dalam tipe hutan kota ini adalah ruang pelindung alami yang rekreatif. Ruang-ruang tersebut dibagi menjadi tiga zona utama yaitu zona konservasi dengan pemanfaatan relatif tinggi, sedang, dan rendah. Zona konservasi dengan pemanfaatan relatif tinggi dimanfaatkan secara maksimal sebagai area penerimaan, pusat rekreasi, pusat informasi, dan pusat pelayanan. Pada zona ini dikembangkan berbagai aktivitas rekreasi dengan fasilitas pendukungnya yang bertujuan agar manusia lebih mengenal dengan alam. Zona konservasi dengan pemanfaatan relatif sedang memiliki tingkat pemanfaatan yang rendah dibandingkan dengan tipe pertama. Pada zona ini dikembangkan berbagai aktivitas rekreasi yang bersifat pasif dengan fasilitas pendukung yang relatif sedikit dan penggunaan struktur yang ekologis dan ramah lingkungan. Tipe yang terakhir adalah zona konservasi dengan pemanfaatan relatif rendah yang memiliki tingkat pemanfaatan yang lebih rendah dari dua tipe sebelumnya. Pada zona ini dikembangkan aktifitas rekreasi yang bersifat pasif dengan fasilitas pendukung yang relatif sedikit dan penggunaan struktur yang ekologis dan ramah lingkungan.
Sirkulasi yang akan dikembangkan dalam hutan kota rekreasi ini dibagi menjadi tiga sirkulasi yaitu sirkulasi primer yang digunakan sebagai penghubung anta ruang, sirkulasi sekunder yang digunakan sebagai penghubung antar sub ruang, dan sirkulasi tersier yang digunakan sebagai jalur tracking. Pola konsep sirkulasi yang dirancang adalah menyebar agar pengunjung mempunyai banyak alternatif tempat rekreasi yang dapat dikunjungi. Jalur sirkulasi dibuat dan dirancang dengan ukuran dan tekstur permukaan yang sesuai dan nyaman. Konsep yang dirancang harus memudahkan pengunjung untuk menjangkau dari satu area ke area lainnya.
Vegetasi yang akan dikembangkan di kawasan ini adalah vegetasi yang memiliki aspek ekologi dan estetika yang fungsional. Secara ekologis, vegetasi yang digunakan berfungsi sebagai perlindungan tanah dan air, mencegah erosi, menghasilkan oksigen, mengurangi kebisingan, mengurangi polusi udara dan lainnya. Secara estetika, hutan kota berfungsi untuk memberikan kesan indah, nyaman, rapih, dan sebagai habitat satwa liar yang indah. Pemilihan vegetasi yang digunakan adalah memanfaatkan jenis-jenis lokal sebagai identitas kota dan jenis-jenis tanaman hias untuk menambah keindahan hutan kota. Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam penentuan jenis pada suatu taman kota adalah bentuk tanjuk, warna, dan tekstur daun yang ditata agar komposisinya memiliki nilai estetika (Dahlan 1992).
Aktivitas rekreasi yang akan dikembangkan di hutan kota rekreasi adalah aktivitas ekowisata. Dalam aktivitas ekowisata, pengunjung yang datang akan diberikan pengetahuan mengenai sumberdaya yang ada dalam kawasan ini baik berupa sejarah, budaya, berbagai jenis tanaman, dan satwa liar. Sedangkan fasilitas yang akan dikembangkan di hutan kota ini adalah fasilitas pendukung kegiatan rekreasi yang ramah lingkungan yang bersifat edukatif dan rekreatif. Contohnya adalah adanya paan interpretasi, tempat pembuangan sampah, tempat peribadatan, tempat peristirahatan, dan fasilitas lainnya.
Hutan kota yang berfungsi rekreasi sudah banyak diterapkan di Indonesia, seperti hutan kota rekreasi Danau Raja Rengat yang terdapat di kabupaten Indragiri hulu, hutan kota Serengseng Jakarta, hutan kota Sampang, hutan kota kamboja di Banjarmasin, hutan kota Suak Indrapuri dan lainnya. Kawasan hutan kota Suak Indrapuri merupakan kawasan yang terkena dampak bencana tsunami, sehingga pasca bencana kawasan ini hanya berupa lahan kosong yang dipenuhi oleh puing-puing bangunan, jalannya berupa jalan sekunder, dan tanaman pionir seperti jenis petai cina. Kondisi seperti ini harus ditata dan direncanakan dengan matang agar dapat terwujud menjadi hutan kota rekreasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2007) untuk menuju kawasan ini harus dibangun jalan primer agar pengunjung mendapatkan akses yang mudah untuk menuju kawasan ini dan segala bentuk perencanaan baik fasilitas, jenis pohon yang ditanam, aktvitas rekreasi, dan bentuk pemanfaatan lainnya direncanakan secara matang. Selain itu peran serta masyarakat harus ditingkatkan dalam pengelolaannya agar perekonomian masyarakat meningkat.

Tidak ada komentar: